Kesadaran
Warga Terhadap Bahaya Merokok
Abstract
Public
awareness of the dangers of smoking is still a major challenge in Indonesia.
Various community empowerment programs through Community Work Experience have
been implemented to increase public understanding and awareness of the negative
impacts of smoking. For example, the PERANGKO (Perangi Asap, Kurangi Rokok)
program initiated by UNUSA D III Midwifery students in RW 03, Wonokromo
sub-district, uses observation sheets to monitor smoking habits in households.
In addition, the "Smoke-Free Village" program in RW 03, Wonokromo
sub-district, has succeeded in creating a healthier environment by involving
residents in making rules to reduce smoking in public areas. In RW 03,
Wonokromo sub-district, health literacy activities that actively involve the
community have shown an increase in understanding of the dangers of smoking and
electronic cigarettes. Similar counseling was also carried out in RW 1, 8, 4,
and 5, Wonokromo sub-district, Surabaya, which involved residents in
interactive discussions about the impacts of smoking on health. The results of
these initiatives show that community-based and participatory approaches are
effective in raising awareness and changing people's behavior regarding smoking
habits.
Keywords:
Public awareness, Dangers of smoking, Community PKL Program, Community
empowerment, Smoke-free environment, Health literacy, Clean and healthy living
behavior (PHBS), Public health interventions.
Abstrak
Kesadaran
masyarakat terhadap bahaya merokok masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui PKL Komunitas
telah dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran warga mengenai
dampak negatif merokok. Contohnya, program PERANGKO
(Perangi Asap, Kurangi Rokok) yang diinisiasi oleh mahasiswa D III Kebidanan
UNUSA di RW 03, kecamatan Wonokromo, menggunakan media lembar observasi untuk
memantau pengurangan kebiasaan merokok dalam rumah tangga. Selain itu, program "Kampung Bebas Asap Rokok" di RW
03, kecamatan Wonokromo, berhasil menciptakan lingkungan yang lebih sehat
dengan melibatkan warga dalam pembuatan aturan kurangi merokok di area publik.
Di RW 03, kecamatan Wonokromo, kegiatan literasi kesehatan
yang melibatkan masyarakat secara aktif menunjukkan peningkatan pemahaman
tentang bahaya merokok dan rokok elektronik. Penyuluhan
serupa juga dilakukan di RW 1, 4, 5 dan 8, kecamatan Wonokromo, Surabaya, yang
melibatkan warga dalam diskusi interaktif mengenai dampak merokok bagi
kesehatan. Hasil dari berbagai inisiatif ini
menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan partisipatif efektif dalam
meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat terkait kebiasaan
merokok.
Kata
Kunci: Kesadaran masyarakat, Bahaya merokok, Program PKL Komunitas,
Pemberdayaan komunitas, Lingkungan bebas asap rokok, Literasi Kesehatan,
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Intervensi kesehatan masyarakat.
PENDAHULUAN
Merokok
merupakan salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis yang berdampak
serius pada kesehatan masyarakat, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung,
dan gangguan pernapasan. Di Indonesia, merokok masih menjadi kebiasaan yang
sulit ditinggalkan, terutama di kalangan laki-laki dewasa. Menurut data dari
Kementrian Kesehatan RI, prevalensi perokok aktif di Indonesia termasuk yang
tertinggi di dunia, bahkan meningkat di kalangan remaja. Meskipun informasi
mengenai bahaya merokok telah banyak disosialisasikan melalui media massa,
iklan layanan masyarakat, serta kebijakan larangan merokok di tempat umum,
tingkat kesadaran warga terhadap risiko merokok masih tergolong rendah. Salah
satu faktor penyebabnya adalah kurangnya pendekatan yang kontekstual dan
partisipatif dalam upaya edukasi masyarakat.
Untuk
menjawab tantangan tersebut, berbagai inisiatif berbasis komunitas telah
dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh institusi pendidikan melalui
program Praktik Kerja Lapangan (PKL) Komunitas. Program-program ini menyasar
masyarakat secara langsung, dengan melibatkan warga dalam berbagai kegiatan
edukatif dan kampanye hidup sehat yang menyoroti bahaya merokok. Pendekatan
berbasis komunitas dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran warga
karena mendorong partisipasi aktif dan dialog terbuka antara fasilitator dan
masyarakat. Dengan menciptakan rasa kepemilikan atas perubahan perilaku,
masyarakat menjadi lebih terbuka dalam menerima informasi dan termotivasi untuk
mengurangi, bahkan berhenti merokok.
Artikel ini
akan membahas berbagai contoh kegiatan PKL komunitas yang telah dilakukan di
beberapa daerah di Indonesia, yang berfokus pada peningkatan kesadaran warga
terhadap bahaya merokok. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi
pendekatan-pendekatan yang efektif dalam menciptakan lingkungan yang lebih
sehat dan bebas dari asap rokok.
METODE ANALISIS
Metode analisis yang
digunakan dalam penulisan artikel ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan
menekankan pada telaah isi dari berbagai sumber data sekunder. Penulis
menganalisis data dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama dari setiap
program atau kegiatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap bahaya merokok. Setiap kegiatan ditelaah berdasarkan
pendekatan yang digunakan (seperti edukasi langsung, penyuluhan, dan penyebaran
leaflet), tingkat partisipasi masyarakat, serta dampak yang ditimbulkan. Selain
itu, penulis juga membandingkan efektivitas pendekatan yang berbeda berdasarkan
hasil yang dilaporkan dalam sumber berita atau dokumen resmi. Analisis ini
bertujuan untuk menemukan pola umum dalam strategi pemberdayaan masyarakat,
serta menyoroti praktik terbaik (best practices) yang dapat dijadikan
acuan dalam pelaksanaan program serupa di wilayah lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan dalam artikel ini
menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas memiliki efektivitas yang
tinggi dalam meningkatkan kesadaran warga terhadap bahaya merokok.
Program-program seperti PERANGKO (Perangi Asap, Kurangi Rokok) di RW 03,
Kampung Bebas Asap Rokok di Wonokromo, dan edukasi kesehatan di RW 1, 4, 5, dan
8, kecamatan Wonokromo, menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan yang dilakukan
secara partisipatif mampu mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat.
Keterlibatan langsung warga dalam kegiatan seperti penyuluhan, diskusi
interaktif, dan pembuatan leaflet menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab
kolektif dalam menjaga lingkungan bebas asap rokok. Selain itu, penggunaan
media yang sederhana namun kontekstual, seperti lembar observasi untuk memantau pengurangan kebiasaan merokok dan leaflet bahaya
merokok, membuat pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diterima. Program ini
juga menunjukkan bahwa edukasi yang tidak menggurui, melainkan mengajak warga
berdialog dan menemukan solusi bersama, lebih efektif dalam membangun
kesadaran. Dengan demikian, strategi pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan
komunikasi dua arah, keberlanjutan, dan pelibatan aktif warga terbukti berhasil
dalam menumbuhkan kepedulian terhadap bahaya merokok serta mendorong perubahan
perilaku ke arah yang lebih sehat.
Dari
hasil kegiatan-kegiatan tersebut, dapat diidentifikasi beberapa faktor kunci
keberhasilan, yaitu:
1. Partisipasi
aktif masyarakat, di mana warga dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi kegiatan.
2. Metode
pendekatan yang kontekstual, yakni menggunakan bahasa dan media yang sesuai
dengan budaya serta kondisi sosial warga setempat.
3. Fokus
pada perubahan perilaku jangka panjang, bukan hanya pemberian informasi
sesaat.
Secara keseluruhan, hasil dari berbagai kegiatan
PKL komunitas ini menunjukkan bahwa edukasi tentang bahaya merokok akan lebih
efektif jika dilakukan dengan pendekatan yang humanis, komunikatif, dan
berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat,
tetapi juga mampu mendorong perubahan sikap dan perilaku terhadap kebiasaan
merokok.
KESIMPULAN
Kesadaran
warga terhadap bahaya merokok dapat ditingkatkan secara signifikan melalui
pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Berbagai program PKL komunitas yang telah dilakukan menunjukkan bahwa metode
edukasi yang kontekstual dan komunikatif, serta penggunaan media yang sesuai
dengan kondisi lokal, lebih efektif daripada pendekatan penyuluhan satu arah.
Keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan menciptakan rasa
memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan bebas asap rokok.
Program-program seperti Kampung Bebas Asap Rokok di Surabaya berhasil mendorong
perubahan perilaku merokok yang lebih sehat dan menumbuhkan kepedulian kolektif
terhadap dampak rokok. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat melalui
pendekatan partisipatif menjadi strategi yang penting untuk menekan angka
perokok dan melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
LAMPIRAN KEGIATAN



