Minggu, 29 Juni 2025

PKL KOMUNITAS D-III KEBIDANAN DI RW 5 WONOKROMO

 

PENTINGNYA POSYANDU BAGI KESEHATAN REMAJA DI RW 5 WONOKROMO

foto leflet 2.jpgfoto leflet 1.jpg

Kesehatan remaja merupakan kondisi kesehatan dan kesejahteraan individu pada masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang meliputi berbagai aspek fisik, psikologis, dan sosial. Kesehatan remaja seringkali menjadi fokus penting karena pada masa ini terjadi perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan perubahan psikososial.

Sasaran utama pemeriksaan ini adalah para remaja terutama remaja perempuan, dikarenakan remaja perempuan yang telah mengalami masa pubertas merupakan individu yang rentan terhadap beberapa resiko penyakit, seperti kekurangan zat besi (anemia), kurang tinggi badan (stunting), kurang energi kronis (kurus), kegemukan atau obesitas, gangguan kesehatan mental (depresi, kecemasan), dikarenakan permasalahan ini merupakan masalah wanita, maka tugas bidan sebagai sahabat wanita adalah menjadi garda terdepan dalam hal ini. Bidan harus mampu mengedukasi para remaja untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Di RW 5 Wonokromo sebagian besar remaja tidak mengikuti posyandu secara rutin dikarenakan bersamaan dengan jadwal sekolah dan beberapa alasan lainnya, yang dapat mengakibatkan rendahnya deteksi dini resiko anemia, perkembangan pubertas, dan kekurangan gizi pada remaja. Untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Prodi D-III Kebidanan mengadakan PKL Komunitas yang dibagi beberapa RW di Wonokromo, waktu pelaksanaan selama 3 minggu (26 Mei-13 Juni 2025). Pada artikel ini membahas permasalahan dan rencana tindak lanjut yang dilakukan di RW 5 Wonokromo.

Pada PKL Komunitas ini tugas kami adalah menganalisis data sekunder melalui kader, selain itu kami mengikuti beberapa kegiatan rutin yang diadakan di RW tersebut, seperti SOTH dan senam lansia, dari pendataan tersebut didapatkan hasil sebagian besar remaja di RW 5 Wonokromo tidak melakukan pemeriksaan kesehatan ke faskes terdekat dikarenakan beberapa alasan, seperti bersamaan dengan jadwal sekolah dan beberapa alasan lainnya. 

Setelah berdiskusi dengan kader terkait permasalahan tersebut, langkah selanjutnya kami melakukan intervensi melalui penyuluhan secara door to door yang bertujuan agar edukasi yang dilakukan lebih intens antara pemberi dan penerima edukasi. Dalam pelaksanaan edukasi ini kami menggunakan media informasi leaflet dan brosur, media ini berisi informasi tentang pentingnya posyandu bagi kesehatan remaja. Kami memberikan edukasi tentang pemeriksaan rutin di posyandu atau faskes seperti pemeriksaan Hb, tekanan darah, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, konsultasi gizi dan pubertas.

Evaluasi dari pelaksanaan edukasi ini adalah para remaja mengerti pentingnya pemeriksaan kesehatan guna menghindari beberapa resiko penyakit pada perempuan dan bersedia melakukan pemeriksaan di faskes terdekat. Kami selaku mahasiswi kebidanan berharap para remaja yang telah mengalami masa pubertas memiliki kesadaran diri untuk memeriksakan kesehatannya demi menghindari dampak buruk yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang.

PKL KOMUNITAS D-III KEBIDANAN DI RW 4 WONOKROMO

ARTIKEL KELUARGA BERENCANA (KB) PENYULUHAN TENTANG KELUARGA BERENCANA DI RW 4 (RT 6,7 DAN 8 ) 

Keluarga Berencana adalah suatu program yang dirancang untuk membantu pasangan suami istri dalam merencanakan jumlah, jarak, dan waktu kelahiran anak guna menciptakan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Permasalahan dari RW 4 (RT 6,7 dan 8) banyaknya presentase ibu ibu PUS tidak memakai KB Dari data sampel 20 sasaran hanya 9 PUS yang memakai KB.

Ibu-Ibu dan Pilihan: Mengapa Beberapa Tidak Memilih KB?

Banyak ibu-ibu di RW 04 RT (6,7 dan 8) memilih untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi. Pemilihan ini dipengaruhi oleh berbagai fakto, mulai dari keyakinan pribadi,adanya ibu ibu yang mengalami perdarahan saat memakai kb, kekhawatiran terkait kesehatan, hingga faktor sosial dan budaya.

Kegiatan penyuluhan ini dilakukan tanggal 04 juni 2025 dengan metode door to door pada pukul 15.30 WIB. Oleh mahasiswa Universitas Nahdatul Ulama Surabaya Program Studi D-III Kebidanan.

Penyuluhan tentang keluarga berencana (KB) ini berlangsung dengan metode door to door di RW 4 RT (6,7 DAN 8 ) dengan metode ceramah dan tanya jawab pada sasaran ibu-ibu PUS. Penyuluhan ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan diawal penyuluhan kita membagikan leaflet sebagai media informasi dari penyuluhan ini dilihat dari tanya jawab, sasaran bertanya dan memberikan feedback kepada pemateri. Penyuluhan ini di tutup dengan dokumentasi.

Lampiran Dokumentasi 



PKL KOMUNITAS D-III KEBIDANAN DI RW 3 WONOKROMO

 Kesadaran Warga Terhadap Bahaya Merokok

Abstract

Public awareness of the dangers of smoking is still a major challenge in Indonesia. Various community empowerment programs through Community Work Experience have been implemented to increase public understanding and awareness of the negative impacts of smoking. For example, the PERANGKO (Perangi Asap, Kurangi Rokok) program initiated by UNUSA D III Midwifery students in RW 03, Wonokromo sub-district, uses observation sheets to monitor smoking habits in households. In addition, the "Smoke-Free Village" program in RW 03, Wonokromo sub-district, has succeeded in creating a healthier environment by involving residents in making rules to reduce smoking in public areas. In RW 03, Wonokromo sub-district, health literacy activities that actively involve the community have shown an increase in understanding of the dangers of smoking and electronic cigarettes. Similar counseling was also carried out in RW 1, 8, 4, and 5, Wonokromo sub-district, Surabaya, which involved residents in interactive discussions about the impacts of smoking on health. The results of these initiatives show that community-based and participatory approaches are effective in raising awareness and changing people's behavior regarding smoking habits.

Keywords: Public awareness, Dangers of smoking, Community PKL Program, Community empowerment, Smoke-free environment, Health literacy, Clean and healthy living behavior (PHBS), Public health interventions.

Abstrak

Kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui PKL Komunitas telah dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran warga mengenai dampak negatif merokok. Contohnya, program PERANGKO (Perangi Asap, Kurangi Rokok) yang diinisiasi oleh mahasiswa D III Kebidanan UNUSA di RW 03, kecamatan Wonokromo, menggunakan media lembar observasi untuk memantau pengurangan kebiasaan merokok dalam rumah tangga. Selain itu, program "Kampung Bebas Asap Rokok" di RW 03, kecamatan Wonokromo, berhasil menciptakan lingkungan yang lebih sehat dengan melibatkan warga dalam pembuatan aturan kurangi merokok di area publik. Di RW 03, kecamatan Wonokromo, kegiatan literasi kesehatan yang melibatkan masyarakat secara aktif menunjukkan peningkatan pemahaman tentang bahaya merokok dan rokok elektronik. Penyuluhan serupa juga dilakukan di RW 1, 4, 5 dan 8, kecamatan Wonokromo, Surabaya, yang melibatkan warga dalam diskusi interaktif mengenai dampak merokok bagi kesehatan. Hasil dari berbagai inisiatif ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan partisipatif efektif dalam meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat terkait kebiasaan merokok.

Kata Kunci: Kesadaran masyarakat, Bahaya merokok, Program PKL Komunitas, Pemberdayaan komunitas, Lingkungan bebas asap rokok, Literasi Kesehatan, Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), Intervensi kesehatan masyarakat.

PENDAHULUAN

            Merokok merupakan salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis yang berdampak serius pada kesehatan masyarakat, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. Di Indonesia, merokok masih menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, terutama di kalangan laki-laki dewasa. Menurut data dari Kementrian Kesehatan RI, prevalensi perokok aktif di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, bahkan meningkat di kalangan remaja. Meskipun informasi mengenai bahaya merokok telah banyak disosialisasikan melalui media massa, iklan layanan masyarakat, serta kebijakan larangan merokok di tempat umum, tingkat kesadaran warga terhadap risiko merokok masih tergolong rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya pendekatan yang kontekstual dan partisipatif dalam upaya edukasi masyarakat.

            Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai inisiatif berbasis komunitas telah dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh institusi pendidikan melalui program Praktik Kerja Lapangan (PKL) Komunitas. Program-program ini menyasar masyarakat secara langsung, dengan melibatkan warga dalam berbagai kegiatan edukatif dan kampanye hidup sehat yang menyoroti bahaya merokok. Pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran warga karena mendorong partisipasi aktif dan dialog terbuka antara fasilitator dan masyarakat. Dengan menciptakan rasa kepemilikan atas perubahan perilaku, masyarakat menjadi lebih terbuka dalam menerima informasi dan termotivasi untuk mengurangi, bahkan berhenti merokok.

Artikel ini akan membahas berbagai contoh kegiatan PKL komunitas yang telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, yang berfokus pada peningkatan kesadaran warga terhadap bahaya merokok. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi pendekatan-pendekatan yang efektif dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari asap rokok.

METODE ANALISIS

            Metode analisis yang digunakan dalam penulisan artikel ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan menekankan pada telaah isi dari berbagai sumber data sekunder. Penulis menganalisis data dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama dari setiap program atau kegiatan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok. Setiap kegiatan ditelaah berdasarkan pendekatan yang digunakan (seperti edukasi langsung, penyuluhan, dan penyebaran leaflet), tingkat partisipasi masyarakat, serta dampak yang ditimbulkan. Selain itu, penulis juga membandingkan efektivitas pendekatan yang berbeda berdasarkan hasil yang dilaporkan dalam sumber berita atau dokumen resmi. Analisis ini bertujuan untuk menemukan pola umum dalam strategi pemberdayaan masyarakat, serta menyoroti praktik terbaik (best practices) yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan program serupa di wilayah lain.

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Pembahasan dalam artikel ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas memiliki efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan kesadaran warga terhadap bahaya merokok. Program-program seperti PERANGKO (Perangi Asap, Kurangi Rokok) di RW 03, Kampung Bebas Asap Rokok di Wonokromo, dan edukasi kesehatan di RW 1, 4, 5, dan 8, kecamatan Wonokromo, menjadi bukti bahwa edukasi kesehatan yang dilakukan secara partisipatif mampu mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat. Keterlibatan langsung warga dalam kegiatan seperti penyuluhan, diskusi interaktif, dan pembuatan leaflet menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif dalam menjaga lingkungan bebas asap rokok. Selain itu, penggunaan media yang sederhana namun kontekstual, seperti lembar observasi untuk memantau pengurangan kebiasaan merokok dan leaflet bahaya merokok, membuat pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diterima. Program ini juga menunjukkan bahwa edukasi yang tidak menggurui, melainkan mengajak warga berdialog dan menemukan solusi bersama, lebih efektif dalam membangun kesadaran. Dengan demikian, strategi pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan komunikasi dua arah, keberlanjutan, dan pelibatan aktif warga terbukti berhasil dalam menumbuhkan kepedulian terhadap bahaya merokok serta mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat.

Dari hasil kegiatan-kegiatan tersebut, dapat diidentifikasi beberapa faktor kunci keberhasilan, yaitu:

1.   Partisipasi aktif masyarakat, di mana warga dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi kegiatan.

2.   Metode pendekatan yang kontekstual, yakni menggunakan bahasa dan media yang sesuai dengan budaya serta kondisi sosial warga setempat.

3.   Fokus pada perubahan perilaku jangka panjang, bukan hanya pemberian informasi sesaat.

Secara keseluruhan, hasil dari berbagai kegiatan PKL komunitas ini menunjukkan bahwa edukasi tentang bahaya merokok akan lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan yang humanis, komunikatif, dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mampu mendorong perubahan sikap dan perilaku terhadap kebiasaan merokok.

KESIMPULAN

        Kesadaran warga terhadap bahaya merokok dapat ditingkatkan secara signifikan melalui pendekatan berbasis komunitas yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Berbagai program PKL komunitas yang telah dilakukan menunjukkan bahwa metode edukasi yang kontekstual dan komunikatif, serta penggunaan media yang sesuai dengan kondisi lokal, lebih efektif daripada pendekatan penyuluhan satu arah. Keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan bebas asap rokok. Program-program seperti Kampung Bebas Asap Rokok di Surabaya berhasil mendorong perubahan perilaku merokok yang lebih sehat dan menumbuhkan kepedulian kolektif terhadap dampak rokok. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan partisipatif menjadi strategi yang penting untuk menekan angka perokok dan melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

LAMPIRAN KEGIATAN

PKL KOMUNITAS D-III KEBIDANAN DI RW 5 WONOKROMO

  PENTINGNYA POSYANDU BAGI KESEHATAN REMAJA  DI RW 5 WONOKROMO Kesehatan remaja merupakan kondisi kesehatan dan kesejahteraan individu pad...